Alhamdulillah aku dilahirkan di keluarga sederhana yang harmonis. Dalam keluarga kami terdiri dari 4 anggota keluarga, yaitu ayahku bernama Iman Susilo, Ibuku bernama Suwarti. Aku mempunyai seorang saudara perempuan yang bernama Putry Sekartaji Utami.
Biasanya kalau libur panjang, Bapak dan Ibu mengajak kami jalan-jalan keluar kota atau ke negri jiran, tapi kali ini karena satu dan lain hal kami tetap di kota batam saja.
Tanggal 11-04-2009 sabtu malam minggu cuaca mendung dan sedikit gerimis, Bapak mengajak kami keliling Batam. Di tengah perjalanan Ibu tiba-tiba usul. “Bagaimana kalau kita pergi ke jembatan 1, kan kita sudah lama tidak kesana.”
Sesampainya kami di sana alangkah sedihnya kami. Jembatan 1 yang menjadi simbol kemegahan kota Batam juga sebagai aset wisata daerah ini sangat kumuh dan jorok. Di tengah jembatan ada gerobak yang ditutup terpal ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Sepanjang jalan sampah berserakan, sayang malam itu kami tidak membawa kamera untuk diabadikan.
Keesokan harinya, 12-04-2009, minggu pagi aku membaca koran Batam Pos halaman 36 yang menggambarkan keindahan pulau Abang. Aku sedih, sementara pemerintah gencar-gencarnya promosi tempat wisata. Dipihak lain masyarakatnya tidak mendukung.
Spontan saja aku mengajak Bapak jalan lagi ke jembatan 1. Pagi ini pukul 07.00 kami berempat berangkat ke Barelang dengan bekal kamera tentunya. Kami sampai di jembatan 1 pukul 07.35 keadaan belum benyak berubah, hanya saja gerobak yang tadi malam teronggok itu pagi ini sudah tidak ada lagi.
Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah di jembatan 1 itu tidak ada petugas kebersihan atau alangkah baiknya selain pos penjaga keamanan juga ada petugas kebersihan. Wahai saudaraku warga Batam, mari kita jaga kebersihan. Kebersihan adalah tugas kita bersama bukan hanya tugas pemerintah saja. Apapun kondisinya hujan, panas, siang, malam, aku ingin Batam selalu bersih. Toh yang banggakan kita juga.
Tampak jembatan Barelang 1 dari kejauhan.

Bukti kurang pedulinya pengunjung atas kebersihan.